Guru spiritual pembimbing iman dan takwa
Guru spiritual
pembimbing iman dan takwa
Kita sebenarnya juga sama posisinya seperti guru, guru pada umumnya bahkan bisa saja lebih tinggi karena ketika ilmu - ilmu umum yang kita terima jika tidak kita hubungkan dengan ilmu - ilmu ketauhidan yang telah diajarkan guru - guru agama. Maka bisa - bisa kita terjerumus dalam lautan akal yang mengutamakan logika tanpa melihat sudut pandang hati nurani dan sunnatullah ataupun rahasia Illahi. Hal demikian menjadi bahaya jika terjadi pada seorang muslim.
Dikatakan muslim intelektual ya bukan karena pemikirannya mengesampingkan atau bahkan tidak menganggap siapa pemilik semua ilmu Allah swt, seharusnya muslim intelektual adalah muslim yang bisa memberikan point of view terhadap fenomena alam secara ilmiah dengan mengingat dan bersyukur bahwa lautan ilmu Allah swt begitu hebat.
Oleh karena itu, untuk memahami bahwa ilmu - ilmu yang ada adalah benar - benar milik Sang Khalik. Kita tidak bisa lepas dari peran guru spiritual yang membimbing rohani kita. Menjadi orang berilmu itu hak dan kewajiban seorang muslim. Rasulullah saw bersabda,
“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)“. (HR. Ibnu Majah)
Hanya saja kita juga harus mencari ilmu itu pada orang yang tepat, pada seorang yang memang patut digugu lan ditiru, salah mengambil langkah dalam penentuan kepada siapa kita berguru maka langkah kita selanjutnya sedikit banyak akan mengikuti apapun yang telah didoktrinkan pada neuron - neuron otak kita. Contoh kecil saja, ketika kita berguru pada seorang ahli fikih akan berbeda sikap kita dengan orang yang berguru pada seorang ahli tassawuf.
Maka dari itu kita sebagai decision maker dalam berguru harus benar – benar teliti, benar – benar paham pada orang yang akan kita jadikan guru. Guru yang berilmu banyak, berwibawa, dan bisa ‘ngemong’ kita, guru yang paket komplit, karena Rasul pun bersabda,
“Duduk bersama para ulama adalah ibadah.” (HR. Ad-Dailami).
Kita di Ingatkan,
“Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa bimbingan Guru maka wajib setan Gurunya” (Abu Yazid al-Bisthami).
Ucapan tokoh besar sufi diatas di khususkan untuk yang berhubungan dengan kerohanian, mistik dimana jika kita belajar tanpa ilmu maka setan akan mudah menyusup dalam setiap ilmu yang kita pelajari. Tidak ada Guru menyebabkan tidak ada yang menegur, membimbing dan mengarahkan agar kita agar tetap berada di jalan yang benar.
Betapa banyak orang menerima ilmu gaib dari sumber-sumber yang tidak jelas, baik Guru maupun asal ilmu. Ada orang menerima ilmu sakti dari mimpi, didatangi sosok yang mengaku sebagai wali Allah kemudian diajarkan ilmu tertentu dan biasanya berupa ayat-ayat yang harus diamalkan, kemudian dia menjadi sakti. Kesaktian yang diperolehnya tersebut kemudian dibungkus dengan ibadah-ibadah, penampilan yang shaleh, untuk memikat banyak orang agar mau mengikuti jalannya yang keliru. Lebih parah lagi, dia tidak menyadari kalau yang diamalkan itu berasal dari setan.
Ada juga orang yang pengetahuan agamanya luas, karena ingin Nampak ‘keramat”, hebat dan disegani orang, kemudian dia mencari ilmu gaib dari sumber-sumber yang dilarang oleh agama. Bertapa di gunung atau menyendiri di pinggir laut sehingga kemudian dia menjadi orang sakti mandraguna. Setan sangat mudah memperdaya manusia dengan menawarkan kehebatan-kehebatan karena sifat dasar manusia ingin selalu hebat dan lebih dari yang lain.
Setan membuat jebakan-jebakan gaib yang diawalnya Nampak benar tapi akhirnya membawa kita kepada kesesatan. Manusia suka cepat, instan, tidak perlu bersusah payah langsung ingin dapat hasil. Karena itu setan menawarkan bukan yang instan juga, tidak perlu bersusah payah zikir di tarekat tapi langsung menawarkan kepada makrifat. Makrifat yang instan itu perlu dipertanyakan kebenarannya. Jangan anda silap, Iblis sebagai mantab malaikat bukan hanya bisa keluar masuk surga tapi bahkan dia bisa mengcopy paste bentuk surga dan kemudian menawarkan kepada manusia
Ada yang memperoleh kesaktian dari amalan-amalan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti mengamalkan Ayat Kursi dan lain-lain. Apakah kehebatan yang dia peroleh tersebut murni? Atau kekuatan yang diperolehnya melalui setan? Disinilah pentingnya kita mempunyai Guru Pembimbing yang mumpuni, seorang Guru yang mumpuni, sudah sangat berpengalaman melewati jalan kepada Tuhan sehingga bisa memberikan kepada kita pentunjuk agar bisa selamat sampai ke tujuan.
Tidak cukup hanya dengan mambaca AL-Qur’an dan mengerti hadist serta memiliki kecerdasan untuk bisa berkenalan dengan Allah SWT. Untuk membuktikan bahwa Allah ada diperlukan dalil Aqli (Akal) dan Dalil Naqli (Ayat-ayat) akan tetapi untuk bisa sampai kehadirat-Nya tidak cukup hanya dengan dalil, anda memerlukan pembimbing rohani yang akan membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya. Itulah sebabnya kenapa orang yang hanya belajar dari bacaan akan memperoleh hasil berupa bacaan pula.
Sementara orang yang belajar dari seorang Guru yang Ahli akan memperoleh hasil yang berwujud, sesuai dengan apa yang telah dijanjikan Allah di dalam Al-Qur’an. ilmu biasapun anda harus mempunyai Guru yang ahli. Anda bisa mempelajari ilmu ekonomi dari bacaan akan tetapi anda tidak akan bisa menjadi seorang sarjana ekonomi hanya dengan membaca.
Anda memerlukan Guru (Dosen) yang akan membimbing, menguji, sehingga anda diakui sebagai seorang Sarjana. Begitu juga dengan ilmu kedokteran, anda bisa memperoleh ilmu-ilmu tentang kedokteran dengan cara membaca buku-buku yang diajarkan di fakultas kedokteran, akan tetapi anda tidak akan pernah bisa menjadi dokter atau diakui sebagai dokter jika anda tidak mempunyai Guru (dosen) yang akan membimbing dan menguji anda. Kalau anda memaksakan diri menjadi dokter (tanpa menuntut ilmu dari yang ahli) maka anda akan menjadi dokter gadungan yang akan menyusahkan banyak orang. Orang yang mengatakan bisa makrifatullah (mengenal Allah) hanya dengan membaca saja dan kemudian mengingkari posisi penting Guru Mursyid tidak lain karena kesombongannya semata.
Memang anda akan mengetahui banyak ilmu tentang ayat-ayat, dalil-dalil, teori-teori akan tetapi anda tidak akan bisa memperoleh “rasa” bertuhan hanya dengan sekedar membaca. Guru spiritual yang akan membimbing anda adalah orang yang telah memperoleh pengakuan dari Guru sebelumnya, dan Guru sebelumnya telah memperoleh juga pengakuan dari Guru sebelumnya, secara sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW. Hakikatnya, Rasulullah SAW lah atas izin Allah yang memberikan ijazah kepada Guru Mursyid untuk mengajar para murid-muridnya diseluruh dunia agar bisa mengenal Allah dengan sebenar kenal sebagaimana Rasulullah membimbing ummat di zaman ketika Beliau masih hidup.
Semoga kita semua bisa mencari guru yang tepat, yang memperhatikan di dunia Maya mereka mengaku Kyai, ajengan Gus dll namun itu gelar kepalsuan hanya mencari keuntungkan di dunia Maya ini, kapasitas ke ilmuaan pun tidak jelas silsilahnya. Semoga menjadi pelajaran buat kita semua.











Please let me know if you’re looking for a writer for your weblog. You have some really good posts and I think I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I’d really like to write some content for your blog in exchange for a link back to mine. Please send me an e-mail if interested. Regards!