GENDAM atau HIPNOTIS TRADISIONAL

GENDAM atau HIPNOTIS TRADISIONAL

 

1. Sekilas Tentang Hipnotis Tradisional

Hipnotis tradisional atau yang biasa disebut dengan istilah ‘hipnotis timur’ berkembang sejak awal ditemukannya ilmu hipnotis hingga sebelum hipnotis modern mulai diperkenalkan oleh Milton Erickson. Dikatakan hipnotis timur karena pada awal perkembangannya, hipnotis jenis ini lebih banyak digunakan pada negara-negara timur seperti Persia, India, dan Mesir. Sejarah tertua tentang hipnotis yang diketahui saat ini berasal dari Ebers Papyrus yang menjelaskan tentang teori dan praktik pengobatan bangsa Mesir Kuno pada tahun 1552. Disebutkan di dalam kitab tersebut bahwa pada zaman tersebut para pendeta sering membacakan sebuah mantra sambil menempelkan tangannya di kepala pasien dalam prosesi penyembuhan. Model penyembuhan semacam ini juga digunakan di negara India yang juga menggunakan semacam mantra yang disertai dengan tarian atau gerakan-gerakan yang monoton dalam prosesi pengobatan pasien.

Pada zaman sebelum hipnotis modern mulai diperkenalkan oleh Milton Erickson, Hipnotis jenis ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan-keperluan seperti seringankan rasa nyeri ketika dioperasi, menidurkan hewan yang tengah kesakitan, dan sebagainya. Hipnotis timur atau hipnotis tradisional adalah hipnotis yang lahir dari “rahim mistik”. Kenapa bisa dikatakan dengan “Rahim Mistik”? karena banyak diantara syarat dan proses penggunaannya mengacu pada hal-hal yang berbau mistik seperti membaca mantra, melafalkan wirid, dan sebagainya. Tetapi, walaupun identik dengan hal-hal yang berbau mistik, hipnotis tradisional oada bagian tertentu memiliki kesamaan dengan hipnotis modern, khususnya dalam “mempengaruhi” subjek, yaitu dengan diawali dengan menciptakan “pra induksi” yang harus disesuaikan dengan kondisi dan pola pikir subjek (sasaran yang dituju), kemudian melakukan “induksi” dilanjutkan dengan trance level test dengan melihat respon subjek terhadap induksi yang dilancarkan, baru kemudian memberikan sugesti atau sasaran sesuai kehendak.

Disamping memiliki persamaan dalam hal mempengaruhi seorang subjek, hipnotis tradirional dan hipnotis modern juga memiliki beberapa perbedaan yang sekiranya membuat sangat berbeda antara keduanya. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain :

  • Hipnotis tradisional lebih menekankan kepada kekuatan ritual, seperti membaca aurat/wirid/mantra secara ruti/mantra secara rutin setiap hari. Hal ini dimaksudkan untuk mempertajam daya magnetis dari wirid/aurad/mantra yang dibaca.
  • Hipnotis tradisonal terkadang memrlukan riyadhah dalam menguasai beberapa tekniknya, seperti puasa, ngembleng (tidak tidur semalaman), nyireh (tidak makan makanan yang bernyawa/hanya makan nasi dicampur garam, bertapa (mengasingkan diri dari keramaian banyak orang), dan sebagainya.
  • Hipnotis tradisional dapat digunakan walaupun subjek menolak untuk dihipnotis.
  • Hipnotis tradisional dapat digunakan dari jarak jauh. Untuk menggunakannya dari jarak jauh biasanya dengan menggunakan telepati.

Berikut di atas adalah beberapa hal yang mendasari perbedaan antara hipnotis tradisional dengan hipnotis modern yang tidak ada persyaratan khusus dalam mempelajarinya. Namun demikian, antara hipnotis tradisional dengan hipnotis modern sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

2. Hipnotis Tradisional = Ilmu Gendam

Pada saat membaca judul di atas, mungkin timbul pertanyaan dalam benak anda, apakah ilmu gendam yang biasa dilakukan oleh seseorang dalam aksi kejahatan merupakan ilmu hipnotis tradisional? Jawabannya menurut saya adalah benar, iya. Ilmu gendam yang biasa dilakukan oleh seseorang adalah bagian dari ilmu hipnotis tradisional. Hanya saja di sini saya tidak setuju apabila ada seseorang yang mengatakan bahwa hipnotis tradisional dapat digunakan dalam aksi kejahatan. Kenapa saya mengatakan begitu? Apa landasan saya memberikan penjelasan yang notabennya sangat bertentangan dengan anggapan yang sudah umum dikalangan masyarakat awam. Satu-satunya jawaban saya adalah karena bukan ilmu hipnotis yang menyebabkan kejahatan, tetapi si pelaku sendirilah yang menyalahgunakan kekuatan tersebut.

Baik gendam ataupun hipnotis modern masih memiliki sebagian yang belum dapat dijangkau pada logika manusia secara awam, akan tetapi jika kita lihat lebih jeli lagi proses antara keduanya hampir sama atau identik, yakni selalu diawali dengan Pre-Induction yang sesuai dan pas pada pola pikir subyek, juga tetap melakukan induksi dengan dilanjutkan pada kedalaman level trans yang sesuai dengan respon yang diberikan oleh subjek. Proses gendam/hipnotis tradisional melakukan penyusupan perintah (induksi) dengan mengkap sinyal dan nalar seorang objek sehingga menjadi tidak sadar dan mau mengikuti perintah si pelau gendam.

Prinsip kerja hipnotis tradisional atau yang biasa disebut gendam adalah diawali dengan membawa subyek (orang yang dihipnotis) dari keadaan sadar (gelombang otak beta) menuju/masuk ke dalam keadaan relaks/relaksasi yang sangat dalam (gelombang otak Alpha dan Theta). Pada saat berada dalam kondisi relaksasi ini, subyek akan jauh lebih mudah menerima saran atau perintah (sugesti) sehingga si pelaku hipnotis dapat memerintahkannya untuk melakukan sesuatu. Perhatikan contoh saya dibawah ini :

Di suatu tempat peristirahatan ada seseorang (sebut saja namanya Irvan) yang sedang duduk sambil berpikir tentang apa yang akan dilakukannya nanti malam setelah beranjak pergi dari tempat tersebut. Otaknya sedang berpikir mau atau berkonsentrasi mengenai kegiatan yang akan dilakukannya (peristiwa ini disebut dingle fokus mind/otak sedang tertuju pada pusat pemikiran). Saat irvan berpikir, yang bekerja adalah otak kiri, yang berhubungan dengan indra penglihatan dengan pendengaran (pada keadaan inilah yang sering digunakan si pelaku gendam untuk menyusupkan perintah dengan cara masuk ke dalam pikiran si korban). Kemudian selang beberapa lama, ada seorang laki-laki tua yang menepk punggung irvan dari belakang dan langsung memberikan sinyal bahwa dia mengenal Irvan dengan sapaan “Halo, apa kabar?” (perintah ortak yang msasuk tadi berhadapan dengan pemikiran logika yang bertanya-tanya, “Siapakah orang ini”. Di sinilah letak penyusupan ilmu gendam tersebut. Pada otak Irvan yang sedang fokus berpikir dikagetkan dengan tepukan punggung dari belakang. Inilah yang membuat otak Irvan lemah sehingga ia dapat dengan mudah dimasuki perintah/sugesti untuk melakukan sesuatu. Hasilnya, Irvan dengan mudah terbujuk rayuan/perintah dari seorang alki-laki tua yang menghipnotisnya. Cerita diatas adalah cerita nyata yang saya ambil dari seorang sahabat saya yang bernama Muhammad Irvan, yang mana pada beberapa bulan kemarin ia telah menjadi korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab di kota Solo.

 

3. Kunci Sukses Menguasai Ilmu Gendam

Apakah anda percaya bahwa ada alam lain selain alam yang kita huni sekarang ini, yakni alam ghoib? Apakah anda percaya bahwa di dalam diri anda terdapat alam bawah sadar yang dapat mempengaruhi keseharian hidup anda, mulai dari cara berpikir anda, cara berpakaian anda, hignga gaya hidup anda? Kalau tidak percaya, berarti selamat, 90% anda telah memahami apa yang saya maksudkan dalam bab ini. Hipnotis tradisional atau biasa dikenal dengan ilmu gendam dalam artian khusus mewajibkan seseorang untuk memenuhi syarat-syarat tertentu dalam mempelajarinya. Syara-syarat tersebut berfungsi sebagai auto-sugesti/swasaran sebagaimana yang terdapat di dalam hipnotis modern. Auto-sugesti harus diasah terus-menerus setiap saat agar bisa disimpan ke dalam pikiran bawah sadar, selanjutnya pikiran bawah sadar tersebut akan mengarah kepada tujuan yang dimaksud. Auto-sugesti yang diasah terus-menerus akan menjadi semakin manjur sebagaimana pisau yang diasah terus-menerus lama kelamaan pasti akan menjadi semakin tajam.

Menurut beberapa ahli gendam, mempelajari ilmu gendam tidaklah sulit, hanya saja untuk mempelajari ilmu ini dibutuhkan keyakinan dan ketekunan untuk mengeasah menjadi suatu hasil yang lebih baik. Bahkan mereka mengatakan juga, jika ingin mempelajarinya tetapi rasa takut dan nuraninya khawatir kalau terjadi bid’ah dan sebagainya, maka akan lebih baiknya apabila mempelajari ilmu gendam melalui jalur yang religius, seperti melakukan puasa khusus, membaca wirid dan do’a, dan sebagainya.

Beberapa kali saya diundang dalam sebuah penelitian hipnootis sebagai instruktur tamu yang membahas tentang hipnotis tradisional. Informasi yang membahas tentang “hipnotis magis” itu ternyata banyak mengusik berbagai kalangan masyarakat, khususnya masyarakat modern/masa kini yang sampai sekarang ini masih sulit untuk menerima adanya keberadaan alam ghaib/dunia lain. Dalam setiap sesi pelatihan biasayna saya memberikan penjelasan bahwa hipnotis tradisional adalah jenis hipnotis yang tidak terlepas dari kaitan ilmu-ilmu ghaib yang difungsikan sebagai swasaran/auto-sugesti.

Kepada masyarakat yang meragukan adanya unrur supranatural itu dan menyakini bahwa gendam yang terjadi di jalanan itu karena faktor kelihaian komunikasi dan memanfaatkan kebodohan korban saja, saya memberikan penjelasan dengan memberikannya beberapa contoh: ketika ada seorang perempuan yang tidak mau dinikahkan oleh laki-laki pilihan orang tuanya karena mungkin ia sangat membenci laki-laki tersebut atau karena faktor lain yang memungkinkan sang perempuan tidak mau menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, maka biasanya kedua orang tua pergi ke tempat ‘orang pintar’ dan meminta tolong supaya anak perempuannya mau dinikahkan. Sang ‘orang pintar’ kemudian memberikannya air untuk diminumkan kepada anak perempuan mereka. Selang beberapa hari setelah anak perempuan minum air dari sang ‘orang pintar’, maka tiba-tiba ia berubah pikiran dan ingin segera dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Pertanyaannya adalah, kenapa perempuan tersebut tiba-tiba berubah pikiran dan ingin segera dinikahkan? Padahal sebelumnya ia tidak mau dibujuk untuk segera menikah. Nah, jika hanya dengan “air yang dibacakan dengan mantra” saja dapat mengubah pikiran orang, maka itu menunjukkan bahwa energi supranatural itu benar-benar ada dan dapat dimanfaatkan untuk membantu menuju pada tujuan yang dimaksud. Energi supranatural tersebut berasal dari mantra-mantra yang dibacakan oleh sang ’orang pintar’. Inilah yang menjadi bukti bahwa alam ghaib itu memang benar-benar ada.

Posisi mantra atau sejenis bacaan tertentu yang dibacakan oleh seseorang menempatkan mantra sebagai “alat bantu”. Dengan kesimpulan itu berarti bukan mantra atau bacaan-bacaan yang menumbulkan kekuatan, melainkan program atau niat ketika bacaan itu dilakukan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, “apa yang kamu ucapkan adalah do’amu”. Artinya, ucapan lisan yang terprogram adalah kekuatan insaniah yang dapat menghasilkan kekuatan Illahiyah. Kaidah ini dalam hipnotis modern disebut auto-sugesti/swasaran. Jika hipnotis modern lebih tertumpu pada teknik “sapa” atau verbal, maka hipnotis tradisional yang mempengaruhi subyek (sasaran) lebih tertumpu pada energi batinnya melalui auto-sugesti yang dibacakan setiap saat/setiap hari.

Para ahli hipnotis tradisional pada umumnya mempelajari ilmu metafisika yang “berkarakter meluluhkan”. Ilmu semacam itu dapat digali dari berbagai unsur, tergantung selera pribadi dan harus disesuaikan dengan later belakang budayanya. Kunci sukses dari mengolah sisi spiritual harus disesuaikan dengan tahap spiritual seseorang. Orang yang nuraninya lebih dekat pada animisme—dinamisme dalam mengolah sisi bainnya harus melakukan ritual yang “aneh-aneh”, orang modern dengan metode yang lebih bisa diterima akal sehatnya, (teknik pernapasan, konsentrasi), sedangkan orang religius mengolah sisi batin itu melalui wirid atau do’a. Di dalam menguasai ilmu hipnotis tradisional/gendam, biasanya seseorang lebih menekankan kepada ritual-ritual seperti halnya bersemedi, puasa, nyireh (menghindari makanan yang bernyawa), ngembleng (tidak tidur semalanan), dan sebagainya. Di samping itu bacaan-bacaan khusus seperti halnya mantra, wirid, do’a, juga harus dilakukan demi mempertajam mata batin seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>