KETIKA HIDUP TANPA WIRID
KETIKA HIDUP TANPA WIRID
Tanya:
Assalamuaikum…. Bapak ustad to the point saja. Saya hidup malas berdzikir. Apa mungkin kebutuhan saya tercukupi. Tp fikiran selalu merdeka. Padahal status ustad. Sebetulnya saya ingin mengikuti dzikir yang ustad berikan tp saya malas melakukan. Berilah saya saran. Mkasih sukses selalu buat ustad.
Jawab
Waalaikumussalaam.. Sahabatku Jika hidup hanya mengandalkan logika, hidup hanya berdasar keinginan nafsu syahwat belaka, pamer harta, merasa tujuan hidup hanya sebatas eksis di dunia maya, yakin orang semacam ini orang yang tersiksa batinnya.
Hidup itu tidak bisa dilogika-kan, hidup bukan seperti rumus matematika, hidup tak sepasti pertambahan satu tambah satu sama dengan dua; gue nggak peduli yang penting gue bahagia.
Hidup itu cuma sekedar modal perjalanan cari bekal menuju perjalanan yang lebih panjang lagi, dimulai dari alam barzakh, alam roh, alam hisab, alam akhirat. Alam dunia hanya fase pertama dari fase riil perjalanan hidup manusia.
Agar hidup tak sia-sia, hidup tak kesasar dari tujuan awal yang menggoda dan terjebak pada penyesalan, maka kita butuh kompas sebagai navigasinya. Kita perlu memiliki suatu amalan wiridan yang bersumber dari seorang guru murabbi mursyid atau amalan yang bersumber dari Alqur’an dan hadits Rasulillah.
Tanpa memiliki pegangan wiridan amaliyyah yang diamalkan secara rutin dan istiqamah seseorang akan kehilangan orientasi dan makna hidup yang bermakna, merasa hampa, galau, terus dilanda kesedihan, mudah frustasi, putus asa, emosi tanpa sebab, gampang tersinggung dan penyakit depresi lainnya.
Di antara satu-satunya jalan untuk memperoleh keberkahan hidup dan istiqamah dalam kebaikan adalah melazimkan wirid-wiridan amaliyyah yang bersumber dari Alqur’an dan hadits Nabi.
Diantaranya melazimkan membaca wirid, seperti doa al-Matsurat, Wirdul Lathief, Ratibul Haddad karangan Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, Ratibul Athas karangan Habib Umar bin Abdurrahman al-Athas, maupun hizb-hizb karangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, Imam Ghozali, syeh abdul qodir dan Imam at-Tijany.
Di beberapa pondok pesantren besar di Tanah Air ini ada yang mewajibkan para santrinya mengamalkan wirid-wirid berupa ratib dan hizb diatas. Dan hasilnya masya Allah, banyak para lulusan santrinya yang menjadi ulama besar yang disegani di masyarakat berkah amaliyah wirid tersebut.
Sebagai orang awam, amaliyah wiridan juga tak kalah penting, selain untuk menambah amal kebaikan pahala, wirid bermanfaat sebagai jalan menggapai ketenangan hidup serta membantengi dari gangguan jin dan sihir, kejahatan dan fitnah di zaman fitnah yang semakin merajalela ini.
Barangsiapa yang melazimkan satu wirid dan membacanya istiqamah pagi dan sore hari insya Alah akan mendapatkan perlindungan dari kejahatan jin, syaitan dan manusia dan dalam jarak 40 buah rumah sekelilingnya juga mendapatkan perlindungan dan keberkahan.
Seorang yang memiliki wirid amaliyah tertentu cenderung pembawaaanya tenang, perilakunya penuh wibawa, kata-katanya didengarkan dan diamnya diperhatikan, sehingga orang lain segan untuk bersikap tidak hormat padanya.
Manfaat lain dari memiliki wiridan amaliyyah harian, mata hati kita ‘ainul bashirah’ kita akan terbuka terang jelas, sehingga dengan mudah kita mengenali mana hakikat kebenaran dan mana rekayasa penuh kepalsuan.
Meski belum kenal kita bisa mengenali jiwa dan karakter setiap orang dengan firasat yang muncul secara alamiyyah. Orang yang berniat jahat tidak akan pernah bisa sampai rencana kejahatannya. Kita tidak akan mudah percaya kepada siapa pun yang akan memperdaya atau menipu kita.
Keberkahan yang paling terasa buah dari amaliyah wirid adalah ketenangan dan ketentraman jiwa, kelapangan hati, kejernihan akal pikiran serta kepercayaan diri yang tinggi akan ada kekuatan dari Allah yang Mahadahsyat. Insya Allah..
Di dalam kitab al-Hikam Ibnu Athaillah al-Iskandary mewasiatkan:
لا يستحقر الورد إلا جهول. الوارد يوجد في الدار الآخرة والورد ينطوي بانطواء هذا الدار وأولي ما يعتني به ما يخلف وجوده…
“Tidaklah seseorang meninggalkan wirid, melainkan seorang yang bodoh. Warid (hasil dari wirid) akan diperoleh di akhirat.












Leave a Reply